Selasa, 07 Mei 2019

Jembatan Kali Sewo di Jalur Pantura dan Kisah Tragis Saidah Saeni

Tradisi tambangan dan sawer (melempar uang receh) berawal dari penghargaan kepada Saeni sang Ronggeng menyanyi dan menari, di iringi oleh Saidah yang memainkan gendang dan kecrek sebagai alat musiknya, berkesenian khas Pantura (musik tarling). Dan dikemudian hari tradisi ini berubah jadi mitos tentang melempar uang receh sebagai 'sedekah minta selamat diperjalanan'.

Kisah ini berawal dari Saidah dan Saeni anak kepala desa Karang Turi Indramayu yang bernama Sarkawi, bersama ibu tirinya yang bernama Maemunah yang berprofesi sebagai Ronggeng. 
Maemunah sang ibu tiri selalu berpura-pura sayang kepada Saidah dan Saeni bila di depan Sarkawi. Tapi jika Sarkawi tidak ada dirumah maka Maemunah sangat jahat sekali sikapnya kepada saidah dan saeni. Sampai suatu ketika Maemunah membuang kedua anak tirinya di Alas Penjalin (ditengah hutan pesisir Subang). Dari pagi sampai sore Saidah dan Saeni kebingungan tidak tau arah jalan pulang, sampai menjelang malam ada seorang kakek tua yang bernama Aki Kulsum datang menemuinya, Aki Kulsum ternyata Raja Siluman Ular. Aki Kulsum menjanjikan kepada Saeni dengan sihirnya akan merubahnya menjadi Ronggeng terkenal, juga akan merubah Saidah menjadi ahli gendang kecrek yang lihai, tapi Aki Kulsum minta syarat setiap bulan purnama penuh mereka (saidah Saeni) harus menyerahkan tumbal darah manusia di tanggul kali sewo. Karena Saidah dan Saeni merasa tak punya harapan lagi, maka disanggupinya persyaratan tersebut.

Keluar dari rumah Aki Kulsum tempatnya belajar jadi ronggeng, lalu Saidah dan Saeni kemudian ngamen diatas jembatan kali sewo. Saeni sangat piawai menyanyi dan menari dan memiliki daya tarik yang luar biasa, bahkan mampu memikat banyak lelaki, saidah juga sangat ahli sekali memainkan gendang dan kecrek. Akhirnya Saidah dan Saeni pun sering di undang show ditempat-tempat keramaian penduduk, kadang di acara hajatan, kadang pula di acara pasar malam sebagaimana tradisi unjungan masyarakat setempat. Saeni jadi artis terkenal pada zamannya, seperti halnya Syahrini yang cetar membahana. Tapi kesibukan show Saidah Saeni membuat mereka lupa akan janjinya pada Aki Kulsum, sudah tiga tahun berlalu Saeni dan Saidah tidak menemui Aki Kulsum di kali sewo, dan hal itu membuat marah besar Aki Kulsum sang siluman ular. Ketika rombongan group tarling Saidah Saeni melewati jembatan kali sewo, dengan sihirnya Aki Kulsum menutup penglihatan pengemudi rombongan dan mengarahkannya nyebur di kali sewo, ketika Saidah Saeni tercebur di kali sewo, seketika itu pula Aki Kulsum dan siluman lainnya menyeret Saidah Saeni dan rombongan. Saidah Saeni menjadi tumbal pesugihannya sendiri.

Sumber:
Cerita Rakyat Indramayu
Tembang Bujangga Kidung Saidah Saeni
Tarling Endang Darma, Layung Sari Saidah Saeni
Bukan Cerita Fakta Sejarah.

Minggu, 05 Mei 2019

BUAT PERJALANAN MUDIK SEBAGAI PERJALANAN REKREASI YANG MENYENANGKAN

Untuk bisa menikmati perjalanan mudik tentunya kita harus punya langkah yang tepat mewujudkannya,

1. Planning perjalanan yang baik.
Menyusun rencana perjalanan mudik agar aman dan nyaman selama di perjalanan, diantaranya:
a. Waktu keberangkatan yaitu sebelum shubuh atau sesudah shubuh, atau antara jam 3 s.d jam 5 pagi, untuk menghindari kemacetan.
b. Pastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat dan stabil.
c. Persiapkan barang bawaan yang diperlukan, tidakmelebihi kapasitas.
d. Pastikan kondisi kendaraan dalam kondisi baik.

2. Santai dan nikmati perjalanan mudik
Ketika menempuh perjalanan di jalur mudik hendaknya tidak terpengaruh atau terbawa emosi oleh pengendara lain,tetapbersikapdan berkendara dengan baik. Nikmati perjalanan anda, jangan tergesa-gesa ingin cepat sampai tujuan, karena kebanyakandiantara para pemudik tergesa-gesa sehingga memacu kendaraan terlalu cepat dan mengabaikan ritme istirahat. Hindari juga 'pengendara Emak-emak" yang kadang ngasih sen kekiri lalu dia belok kanan.

3. Perhatikan Faktor Keamanan dan Kenyamanan
Selain perlengkapan keamanan dan kenyamanan berkendara seperti halnya: Helm berstandar, pakaian dan jaket yang sesuai, sarung tangan dan masker pelindung debu dan asapkendaraan, dan sepatu. Faktor keamanan dan kenyamanan lainnya mengenali rute dan jalur mudik yang akan ditempuh. Karena beberapa tempat dijalur mudik adalah minim penerangan, dan ada juga yang kondisi jalannya tak terlalu lebar dan berlubang, bahkan ada beberapa tempat dijalur mudik yang rawan kejahatan.

4. Istirahat Secara Berkala di Tempat Peristirahatan yang Tepat
Jangan memaksakan diri untuk terus berkendara karena ingin cepat sampai tujuan, tentukan ritme istirahat maksimal tiga jam sekali, dan crilah tempat istirahat yang nyaman dan teduh. Beberapa SPBU menyediakan fasilitas tempat ibadah, toilet, dan Rest Area bagi para pemudik. Danbeberapa Masjid-masjid besar yang halaman parkirnyaluas juga biasanya pihak marbot menyediakan tempat istirahat bagi para Pemudik.

5. Hindari Perjalanan Pada Hari Minggu
Beberapa daerah di jalur mudik punya tradisi pasar tumpah pada hari minggu, terutama daerah Indramayu dan Cirebon, seperti Pasar Mingguan Tegal Gubug, Pasar Minggu Palimanan, Mingguan Ning Jatibarang, Pasar Eretan, dan banyaklagiyang lainnya.

6. Bawa Perlengkapan Selfy dan Gadget
Untuk mengisi waktu senggang selama perjalanan mudik, dan mengabadikan moment langka dalam perjalanan maka jangan lupa bawa selalu HP, Charger, dan power bank.
Ketika Diri Berasa Sepi Maka CVoba Lakukan Selfy.
Selamat Mudik Happy...!

Kamis, 02 Mei 2019

Tempat Paling 'Istagramable' di Jalur Mudik Indramayu-Cirebon

1. Masjid Syech Abdul Manan, Islamic Centre Indramayu



Terletak di jalur utama Jakarta - Indramayu - Cirebon, tepatnya di Bunderan Mangga, Simpang Lima Pekandangan, Indramayu, dan akses jalannya sangat mudah. Masjid yang cukup besar dan megah dengan ornamen masjid dibuat sangat apik dan mengesankan arsitektur timur tengah. Dengan pelataran parkir yang cukup luas sehingga mampu menampung cukup banyak kendaraan.
Di halaman Masjid terdapat taman air mancur yang jika malam hari kelihatan airnya seperti menyala karena sorot lampu LED.
Masjid ini dihiasi tiga kubah, dan kubah yang terbesar berada ditengah diapit dua kubah yang lebih kecil, serta ada empat menara yang menjulang di empat sudutnya.

2. Pantai Tirtamaya
Tiket masuk Pantai Tirtamaya hanya Rp 10.000 per orang, sangatlah menyenangkan untuk bersantai dipagi hari ketika matahari terbit. ada fasilitas masjid lengkap dengan mukena dan sarung dan beberapa toilet serta tempat berwudlu.


3. Gua Sunyaragi
Komplek gua ini menyuguhkan seni arsitektur unik, filosofi budaya lokal terasa sangat kental serta diselimuti suasana mistis karena zaman dahulu tempat ini dijadikan tempat bersemedhi.


Serunya Mudik dan Touring di Jalur Arteri Jakarta–Cirebon Karena Memiliki Tempat yang Istagramable

Jalur mudik Jakarta - Cirebon dan Jawa Tengah masih menjadi favorit bagi pemudik dan atau Touring yang menggunakan sepeda motor. Pemudik sepeda motor yang melewati jalur kali malang bisa memilih Masjid Jami' Al Azhar (Blue Mosque) sebagai Rest Area terutama ketika memasuki waktu sholat, karena masjid tersebut berukuran cukup besar dan memiliki ruang ibadah yang bagus, fasilitas yang bagus termasuk tempat ngopi dan makan, memiliki tempat parkir yang cukup luas, dan letaknya persis di sisi jalur mudik jakarta - bekasi, di Jl. KH. Noer Ali, Jaka Sampurna Kota Bekasi.

Lalu pemudik memulai perjalanan dengan menyusuri jalur mudik Bekasi - Karawang, dan pemudik bebas memlilih keluar di ruas jalur simpang jomin Cikampek, atau mau memilih jalur alternatif  Jl. Syech Quro Blanakan dan keluar di ruas jalur Ciasem, setelah itu dilanjutkan menuju Indramayu.
Jika memilih Jalur Karawang - Cikampek, disarankan untuk tidak melewati Kota Karawang dikarenakan ada beberapa pasar tumpah (tradisional) dan dipusat kota Karawang di jalur ini ada Mall yang rawan macet, maka pilihlah jalur karawang baru  (Jalur Krasak) yang 'view' nya pesawahan warga, karena jalur ini memiliki jalur alternatif Rest Area yang dilengkapi toilet, ruang sholat, dan tempat makan dan ngopi yaitu di beberapa SPBU, atau di Masjid-masjid di sepanjang jalur mudik.
Lepas dari wilayah Karawang, pemudik lalu melewati jalur Subang yang memiliki 'view' sawah yang bisa dijadikan tempat Selfy untuk melepas lelah, dan setelah melewati Jembatan Kali Sewo yang banyak sekali peminta-minta yang membawa sapu lidi dan ranting pohon, pemudik kemudian masuk wilayah Indramayu.
Jalur Indramayu memiliki banyak tempat yang 'istagramable', di jalur ini banyak terlihat areal pesawahan yang luas dan ada beberapa Pantai yang terletak persis di sisi jalur mudik, salah satunya Pesona Laut tepatnya di Desa Kali Menir Indramayu yang bisa di jadikan Rest area dan tempat 'Selfy'. Bagi Para pemudik sangat disarankan untuk melewati jalur Kota Indramayu, karena Kota Indramayu sangat jarang macet dan Jalur Indramayu juga memiliki tempat-tempat yang unik untuk disinggahi, sangat cocok bagi para Selegram, dan pengguna Media Social yang sekarang lagi marak, tempat-tempat tersebut diantaranya:
1. Masjid Islamic Centre Indramayu
2. Muara Sungai Cimanuk, Pendopo Wiralodra, dan Masjid Agung Indramayu (satu tempat)
3. Pantai Karangsong, Pantai yang memiliki hutan bakau yang luas dan jalan ke arah pantai adalah       Pelabuhan besar kapal ikan nelayan tradisional, dan pusat pembuatan perahu tradisional.
4. Pantai Tirtamaya (berada 50 meter dari Jalur Mudik Indramayu)
5. Pantai Glayem (200 meter dari jalur mudik Indramayu)
6. Pantai Dadap Karangampel.
7. Gunung Djati (Giri Amparan Djati) Cirebon
8. Keraton Kasepuhan Cirebon
9. Goa Sunyaragi Cirebon (letaknya di sisi jalur mudik Cirebon)

Ketika sudah sampai di jalur Cirebon, disamping di rekomendasikan tempat-tempat seperti yang penulis sebutkan diatas, ada beberapa Kuliner yang pantas untuk dicicipi.
Kuliner khas daerah Cirebon bisa menjadi solusi yang menarik untuk menghilangkan kepenatan setelah menempuh perjalannan yang panjang dengan lalu lintas yang padat. kuliner-kuliner tersebut diantaranya:
1. Empal Gentong (yang terkenal empal gentongnya Mang Darma dan Mang Apud)
2. Nasi Jamblang
3. Nasi Lengko
4. Tahu Gejrot
5. Sate Junti (Indramayu)
6. Rumbah Darinih

Setelah melewati Cirebon, Pemudik menuju ke wilayah Jawa Tengah lewat jalur alternatif dengan melewati Jl. Batangsari - Ketanggungan - Slawi - Randu dongkal - Bantar bolang - Kebon agung - Wonotunggal - Sukorejo - Boja - Ungaran - Semarang - dan Solo.

Selamat Mudik,
Jaga Selalu keamanan dan kenyamanan berkendara


Sumber:
Pengalaman Pribadi jadi Pemudik Bersepeda Motor selama 8 tahun








Senin, 29 April 2019

P. Pucuk Umun Menantang Syech Maulana Hasanuddin (ponakannya) Adu Ayam Jago, Taruhannya Tanah Banten

Prabu Pucuk Umun tampak menggenggam tombak pusaka, dan golok ciomas terselip di pinggangnya. Rambutnya gondrong sampai leher, berbusana serba hitam dan mengenakan ikat kepala. Dengan lantang dan berwibawa dia berkata, "wahai ponakanku Maulana Hasanudin jika kamu ingin meneruskan menyebarkan agama Islam di tanah Banten, kita harus bertaruh adu ayam jago, jika kamu kalah kamu harus meninggalkan Banten dan juga Islam agamamu, tapi jika ayam jagomu menang maka sebagai taruhannya jabatan adipati dan kekuasaan atas tanah Banten ini kuserahkan kepadamu".
Dengan membungkuk hormat Syech Maulana Hasanuddin menerima tantangan itu, lalu disepakati arena adu ayam itu di lereng gunung karang yang di anggap wilayah netral.
Syech Maulana Hasanuddin berpakaian jubah san soban putih membawa ayam jago pemberian dari Kanjeng Sunan Ampel, di iringi para Ustadz dan Santri pilihan, juga dikawal oleh senopati dan prajurit untuk menjaga kemungkinan buruk.

Ayam jago Prabu Pucuk Umun diberi ajian Braja Musti, kedua tajinya dipasangi keris tajam beracun di ikat di masing-masing tajinya. Sementara ayam jago Maulana Hasanuddin tak di pasangi apa-apa hanya do'a-do'a yang di panjatkan kepada Allah Sang Pemilik segala, namun sebelum di bawa ke arena ayam jago Syech Maulana Hasanuddin dimandikan di sumur kejayan di Masjid Agung Banten.

Dengan izin Allah ayam jago Syech Maulana Hasanuddin menang, dan ayam jago Pucuk Umun mati terkapar setelah bertarung. Syech Maulana hasanuddin dinyatakan memenangkan taruhan, Pucuk Umun merasa kalah dan memberi selamat kepada ponakannya, dan ia menyerahkan tombak pusaka dan golok ciomas sebagai simbol penyerahan kekuasaan tanah Banten kepada Syech Maulana Hasanuddin.


Cerita ini hanya Cerita Rakyat
Dikutip dari Drama Tarling, Cerita Kesenian Sandiwara, dan Kidung Tembang Bujangga.
Cerita ini bukan berdasarkan Fakta Sejarah



Jumat, 26 April 2019

KETIKA BEDUG DIPUKUL MAKA MUNCULLAH BUAYA-BUAYA ITU DARI SUNGA CIMANUK, SETELAH ITU TAK ADA LAGI BEDUG DI DESA JATISAWIT

Seekor anak buaya terbawa arus banjir  hingga sampai ke pemukiman warga. kemudian anak buaya putih itu diselamatkan oleh Ki Lebe Kamal karena mau di bunuh oleh penggembala kerbau karena ditakutkan buaya itu akan makan kerbau miliknya. Kemudian Ki Kamal membawa dan memelihara anak buaya di Kedokan Taluntaka (telaga) di samping balai desa Jatisawit. Karena Ki Kamal tidak mempunyai anak, maka Ki Kamal sayang banget sama buaya putih peliharaannya, anak buaya itu diurusnya dengan baik seperti mengurus anaknya sendiri. Dan yang sangat mengembirakan Ki Kamal dan istri, buaya tersebut tak pernah bikin ulah, tak pernah mengganggu orang dan hewan peliharaan, bahkan cara makannya pun seperti layaknya manusia, buaya ini suka nasi, tahu tempe goreng, sambel pete, dan suka juga dengan minum kopi atau teh manis.

Seiring berjalannya waktu, buaya putih yang dipelihara Ki Lebe Kamal di kedokan taluntaka tambah besar, dan diwaktu yang bersamaan Kepala Desa Jatisawit, Kuwu Sardana juga memiliki anak gadis remaja putri yang bernama Maryam, dan tiap bulan purnama ketika Ki Kamal dan Nyi Santi tidur, buaya ini berubah wujud menjadi pemuda ganteng dan gagah dan bernama Jumad, dan ketika malam purnama hari selasa kliwon (hari anggoro kasih) ketika Jumad Jaka Bajul sedang mencari teman-temannya sampailah Jumad di rumah Kuwu Sardana (Kuwu Desa Jatisawit), Rumah Kuwu paling ramai banyak sekali bujang dan gadis sedang bermain, sebagaimana suasana desa disaat bulan purnama. apalagi Kuwu Sardana sangatlah demawan. Di situlah awal pertemuan Jumad dan Maryam menemukan cinta pada pandangan pertama, Maryam anak Kuwu Sardana (kepala desa jatisawit) jatuh cinta sama Jumad. Singkat cerita jadilah mereka pasangan suami istri.

Seiring berjalannya waktu, Jumad lalu membawa istrinya ke habitatnya yaitu dasar sungai cimanuk. Kedatangannya disambut gembira oleh keluarga dansangat dihormati olwh warga dasar sungai cimanuk. Jumad jarang dirumah dan setiap dia mau pergi selalu berpesan pada maryam istrinya agar jangan sekali-kali naik ke langit-langit rumah. Ternyata larangan suaminya membuat penasaran Maryam, lalu naiklah dia ke langit-langit, dan begitu sampai diatas maka sampailah dia ke daratan.
Karena merasa bingung harus berbuat apa, maka pulanglah Maryam ke rumah orang tuanya sambil menangis menyesal karena tak mengindahkan larangan suaminya. Seminggu kemudian Jumad menyusul Maryam ke rumah mertuanya, tapi Maryam tak mau diajak kembali ke negeri dasar sungai cimanuk yang menurutnya banyak keanehan. Akhirnya Jumad pulang sendirian. tapi sebelum pulang jumad memberikan bedug kepada Maryam dan mertuanya dan berkata kapanpun mereka memerlukan Jumad, mereka bisa memukul bedug itu.

Kabar tentang suami Maryam dan perihal bedug itu terdengar luas, dan pengembala kerbau yang dulu mau membunuh anak buaya mendengar juga kabar itu. Karena tidak percaya maka dipukulnya bedug itu berkali-kali, dan muncullah buaya-buaya dari sungai cimanuk sehingga membuat geger dan menakutkan warga sekitar. Buaya-buaya itu kumpul dirumah Kuwu Sardana dan menanyakan mengapa mereka dipanggil. Kuwu Sardana lalu minta maaf atas ulah pengembala kerbau yang tak percaya perihal pemukulan bedug sebagai pemanggilan para buaya.
Maka untuk menghindari peristiwa itu terjadi lagi maka atas usul beberapa warga maka bedug itu di hanyutkan di sungai cimanuk agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Dan sampai sekarang Masjid Desa Jati sawit tidak pernah lagi memiliki bedug, dan masyarakat Desa Jatisawit tak ada lagi yang berani memeukul bedug.


Sumber:
Mimi Karsih Pawidean
Bapa Bodong Arjawinangun
Cerita Rakyat Masyarakat Jatisawit dan sekitarnya

Bukan Cerita Berdasarkan Fakta Sejarah






Kamis, 25 April 2019

TAMBA GEDE (OBAT MUJARAB) ASAL USUL NAMA DESA TAMBI

Adalah seorang senopati pimpinan pasukan kerajaan Mataram pada waktu pemerintahan Raden Patah, dimana setelah menjalani peperangan yang panjang mengusir penjajah belanda di Batavia, ternyata pasukannya kalah dan dibuat kocar-kacir oleh Belanda, dan keberadaan sang senopati sangat dicari oleh pihak Belanda disamping memiliki pengaruh besar, dan memiliki kesaktian mandraguna, juga mempunyai siasat perang yang sangat membahayakan pihak penjajah Belanda.

Sang Senopati adalah juga seorang pertapa, maka ketika seluruh pasukannya cerai berai, kemudian ia bersembunyi disuatu tempat dataran yang agak tinggi, disekeliling tempat tersebut selalu digenangi air sehingga masyarakat menyebutnya dengan PEPULO, (Blok Pulo). Senopati tersebut bertapa dibawah pohon-pohon yang besar dan rindang, Pohon Kesambi, Pohon Asem, dan Pohon Rengas (Yen ngadepi masalah disambi bari mesem lan aja ringas = hadapi masalah dengan senyum dan jangan panik). Karena lamanya waktu dalam pertapaan tanpa terasa seluruh tubuhnya tertutup oleh akar dan ranting pohon kesambi. sampai pada suati hari seorang pencari kayu yang bernama Jemirah mendapatinya ketika Jemirah mengambil ranting kayu bakar yang ternyata menutupi tubuh Senopati yang sedang bertapa. Kemudian Jemirah menyiram tubuh pertapa dengan harapan agar ia sadar dan setelah siuman Jemirah memberi minum pertapa itu, lalu Senopati pertapa itu siuman.
Setelah Senopati pertapa itu siuman, Jemirah si pencari kayu bakar bertanya kepada pertapa tersebut tentang identitasnya, akan tetapi sang pertapa tidak menjawab, hanya saja dia mengamanatkan bahwa sumber air yang membuatnya siuman dan sembuh segar kembali dinamakan TAMBA GEDE, yang artinya obat mujarab. Tempat sumber air yang sekarang menjadi sebuah sumur sekarang dikenal dengan nama TAMBI GEDE, dan masyarakat setempat masih memperingati peristiwa tersebut setiap tahun dengan mengadakan acara BARITAN dengan menampilkan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Senopati Pertapa tersebut kemudian memilih tinggal disitu dan bercocok tanam setelah sebelumnya membabat hutan di sekelilingnya dan membuat tempat tinggal serta pemukiman. Senopati Pertapa dianggap sebagai pendiri dan pemimpin masyarakat sehingga terbentuk sebuah desa yaitu Desa Tambi  yang berasal dari kata Tamba (obat).
Sampai suatu ketika Jemirah mengantar seorang prajurit yang membawa baju besi dan topi baja menemui Senopati Pertapa yang sekarang bernama Buyut Tambi, dan ternyata prajurit itu adalah mantan ajudannya ketika dulu Buyut Tambi menjadi Senopati Mataram. Akhirnya Buyut Tambi, Buyut Jemirah, dan Buyut Waja (karena membawa baju besi dan topi baja) bersama-sama membangun pemukiman dan tempat bercocok tanam bersama di Desa Tambi. mereka berkeluarga dan ber-anak pinak.

Desa Tambi tumbuh menjadi perkampungan besar dan potensial dari segi ekonomi hal ini menjadikan Desa Tambi banyak didatangi penduduk dari daerah lain untuk tujuan berdagang, tapi diwaktu yang bersamaan wilayah ini juga kerap dilanda keresahan akan tindak kejahatan dan perampokan. Akhirnya sang pemuka masyarakat mengadakan sayembara: siapapun yang bisa menangkap perampok dan menjaga keamanan maka akan di angkat sebagai KUWU (Kepala Desa).
Pada waktu itu Ki Raden Angres Senggiling (dari Plumbon Cirebon) menyatakan diri sanggup memegang tugas tersebut. Dan tak lebih dari 9 hari, Ki Raden Angres berhasil menangkap penjahat-penjahat itu dan mengikatnya di pohon Gayam, dan pohon Asem. Atas keberhasilan Ki Raden Angres Senggiling itu lalu masyarakat mengangkatnya menjadi Kuwu di Desa tambi tersebut. Ki Raden Angres, anaknya, dan cucunya jadi Kuwu di Desa Tambi, tapi setelah Indonesia merdeka, pemilihan Kuwu dipilih secara demokratis melalui Pemilu.



Penulis adalah Penduduk Desa Tambi
Rumah tinggal penulis berjarak 50 meter dari Tambi Gede

Sumber:
- Buku Sejarah Kecamatan Sliyeg
- Guru Toso (cicit Raden Angres Senggiling)
- Kunci Dasta (Cicit Mbah Buyut Tambi)
- Bapa Agung (Juragan Pande Besi, Produksi alat-alat pertanian jaman dulu)